OPINI ; JANGAN TAKUT DENGAN WARTAWAN.

Di suatu siang yang cukup terik, saya mendapat ajakan makan siang dari seorang pejabat provinsi yang biasa saya wawancarai untuk bahan berita, disebuah warung makan di wilayah Kayutangi. Sambil menunggu makanan dihidangkan, saya terlibat perbincangan yang tanpa arah, kesana kemari sesuai suasana hati. Anehnya sang pejabat berpesan pada saya untuk tidak menulis atau diberitakan apa yang tadi dibicarakan alias diobrolkan.

Saya sendiri  tak berniat menjadikan obrolan itu sebagai berita. Toh, kami memang sekadar bapanderan, bukan wawancara. Lagi pula, yang diobrolkan adalah urusan-urusan yang tak begitu menarik bahkan untuk bahan liputan sekalipun.

Tetapi begitulah, kerap orang bersikap bila bertemu wartawan. Pernah suatu hari, seorang tokoh lain lagi, yang kebetulan belum mengenal saya, tiba-tiba terkejut ketika diperkenalkan bahwa saya adalah wartawan. Usai pertemuan tak sengaja itu kawan yang jalan bersama saya bilang; “…tadi Pak Anu itu nanya, kok bawa wartawan sih.”

Banyak sekali kejadian di mana wartawan dianggap seperti sosok menakutkan yang, kadang-kadang, memunculkan stigma: daripada jadi masalah, lebih baik dituruti saja maunya. Kalau satu orang wartawan saja “ditakuti”, apalagi berpuluh-puluh wartawan yang berhimpun dalam sebuah organisasi!

Di tengah masih banyaknya kritik mengenai profesi jurnalis, saya sampai hari ini tetap bangga menjadi wartawan. Setidaknya karena saya sendiri merasa menjalankan profesi kewartawanan saya dengan baik dan dalam batas kewajaran. Meski begitu saya tak bisa menutup mata, bahwa juga ada potret buruk mengenai komunitas pers hari ini; suka terima (atau minta) amplop, (maksud saya isinya) kadang-kadang memeras, baik dengan cara halus maupun cara preman, memperdagangkan informasi untuk diberitakan atau tidak diberitakan, berlaku arogan seolah-olah wartawan adalah masyarakat kelas satu.Dalam konteks attitude, agak sulit mengomentari prilaku wartawan, atau katakanlah oknum wartawan, atau malah hanya mengaku wartawan, yang menyalahgunakan profesi jurnalis untuk kepentingan yang tak ada hubungannya dengan berita. Komunitas wartawan pun berada pada posisi yang sulit untuk ikut campur urusan sesama. Ibaratnya, sedapat mungkin tak saling mengganggu lah. Kecuali bila urusan itu (ternyata) telah menyentuh ranah publik.
Seperti yang masih hangat diperbincangkan, seorang oknum wartawan harian di Banjarmasin melakukan pemerasan di sebuah salon di Jalan Gunung Sari pada akhir pekan tadi, menjadi contoh nyata bahwa provisi ini masih  saja disalah gunakan. Kepada anda yang didatangi orang yang mengaku wartawan, jangan segan untuk menanyakan identitas dan dimedia mana dia bekerja. Narasumber harus cerdas dan jangan manut begitu saja.

Namun saya berharap, wartawan diperlakukan secara wajar. Sebab kami adalah manusia biasa juga, yang dalam hal profesi sebenarnya tidaklah seistimewa profesi yang lain. Sebagai manusia kami pun tidak sesempurna jagoan-jagoan heroik yang kalau di film selalu menang. Bukan pula malaikat penjaga surga yang senantiasa dilingkupi kebenaran. Ada saat di mana wartawan harus ditengok dari sisi kemanusiaannya; bisa khilaf, bisa salah, bisa nakal, bisa curang, bisa lanji….

Saya harus menganjurkan soal ini, mengingat begitu banyak pengalaman di mana tokoh-tokoh pejabat dan pengusaha kita tak berkutik ketika “dikepung” sekelompok wartawan yang, secara terang-terangan, minta duit, misalnya. Seorang pejabat kenalan saya bercerita, pernah untuk sebuah acara, dia harus habis Rp20 juta untuk “mengamplopi” wartawan. Wartawan yang suka minta uang kalau di Banjarmasin terkenal dengan sebutan Wartum alias Wartawan Tumbak…ha…ha…ha….Ada juga yang menyebutnya CNN alias Cuma Nanya – Nanya.

Hanya dengan pertimbangan menjaga hubungan baik, si pejabat akhirnya harus keluar duit dari kantong pribadi.

Seorang kawan pengusaha bercerita, perusahaannya menyiapkan “dana segar” khusus untuk meladeni wartawan yang bertamu dengan maksud meminta uang. “Mereka mengaku wartawan, lengkap dengan id card. Ya saya sih sudah ngerti. Mereka datang bukan untuk wawancara, melainkan minta duit,” katanya. Daripada ngalih, yang model begini biasanya dilayani dengan “dana segar” tadi.

Sedemikian parahnya, sampai-sampai wartawan menjadi seperti monster. Memang bukan melulu salah wartawan. Sering juga karena pejabat atau pengusaha yang takut dengan wartawan itu memang punya masalah, lantas khawatir masalahnya diberitakan. Kalau tidak punya masalah, untuk apa takut?
Menurut saya inilah saatnya komunitas pers melakukan introspeksi; haruskah wartawan menjadi sosok yang ditakuti? Tidakkah wartawan perlu berlaku dan diperlakukan wajar seperti halnya warga negara yang lain?..Ketika seluruh elemen bangsa terus bergerak mereformasi diri, pers termasuk yang masih harus direformasi, ia kalo Wal….Selamat Hari Pers….

Rate this article!
Tags:
author

Author: