Kalsel Siap-Siap Miskin

Hidup seperti roda yang sedang berputar. Kadang di atas, kerap di bawah. Seperti halnya tingkat perekonomian di Kalsel.

Pernah berjaya dengan sektor unggulan seperti pertambangan batubara, perkebunan sawit dan karet, perekonomian di Banua mulai terseok-seok dalam setahun terakhir. Dampaknnya, pemutusan hubungan kerja yang berimbas pada grafik kemiskinan.

Penurunan harga komoditi ekspor unggulan seperti batubara, sawit, dan karet membuat banyak perusahaan merugi hingga gulung tikar. Kondisi ini menyebabkan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) di Kalsel mulai tinggi. Masyarakat bersiap-siap jatuh miskin.

Rudi, mantan karyawan sebuah perusahaan batubara, kini hanya berharap pada toko kelontongan di rumahnya. Terlihat santai, dia mengenang dua tahun lalu, saat menjadi karyawan sebuah perusahaan batubara, penghasilannya berlipat-lipat. “Susah lowongan sekarang,” katanya yang sekarang hanya membantu istri menjaga toko rintisan kecil-kecilan

 

iungkapkannya, dua tahun lalu, dia masih berstatus sebagai karyawan sebuah perusahaan batu bara.  Lesunya bisnis batubara membuat perusahaan dimana dia bekerja, akhirnya gulung tikar. Sempat mencari pekerjaan di perusahaan tambang lainnya, namun nihil. “Sekarang perusahan malah lebih memilih mem-PHK karyawan dibandingkan membuka lowongan,” ungkapnya.

Rudi tak menyangka sekarang menjadi pengangguran dan hanya membantu sang istri menjaga toko di rumahnya yang berada di Kelurahan Sungai Ulin Kota Banjarbaru. Padahal ketika batubara masih jaya pada tahun 2013 lalu ia sempat bekerja dengan gaji sebesar Rp15 juta perbulan. “Dulu malah perusahaan yang mencari kita, sekarang kita yang kesusahan mencari perusahan yang membuka lowongan,” katanya.

Alumni Akademi Teknik Pembangunan Nasional (ATPN) Banjarbaru angkatan 2005 ini mengaku terakhir kali bekerja di perusahaan pertambangan pada tahun 2014.  “Sekarang menganggur, tapi terkadang ada proyek pembuatan peta,” ujarnya.

Bukan hanya Rudi, masih ada ribuan tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan buntut dari menurunnya tiga komoditi unggulan Kalsel. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kalsel mencatat, pada tahun 2014 jumlah PHK telah mencapai 2.186, sedangkan di tahun 2015 sebanyak 1.130. “Kemungkinan di tahun 2016 bakal kembali meningkat, karena baru di awal tahun saja sudah 826 karyawan terkena PHK,” kata Kepala Disnakertrans Kalsel Anton S melalui Mediator Hubungan Industrial (HI) Mihrob.

Selain PHK yang mulai besar-besaran, jumlah angka kemiskinan Kalsel juga masih tinggi. Bahkan, Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel mencatat, jumlah kemiskinan pada tahun 2015 mengalami peningkatan hingga 15.560 jiwa. Yaitu sebesar 198.436 jiwa pada tahun 2015, sebelumnya di tahun 2014 hanya sebanyak 182,876 penduduk.

Untungnya, pada tahun 2015 BPS merangkum kondisi perekonomian di Kalsel pada triwulan IV masih membaik ditunjukkan dari tingginya Indeks Tendensi Konsumen (ITK) sebesar 101,51. Dimana, sebelumnya pada triwulan III kurang dari 100.

Akan tetapi, nilai ITK Kalsel triwulan IV tahun 2015 ternyata lebih kecil dibandingkan provinsi lain di Kalimantan. Yakni 101,51 disusul Kalbar 104,07, Kalteng 104,74 dan Kaltim 105,90.

Kepala BPS Kalsel Dyan Pramono Effendi melalui Kabid Statistik Distribusi Arih Dwi Prasetyo mengatakan, dengan kondisi perekonomian Kalsel saat ini sebenarnya sudah cukup memprihatinkan.

 

Ia memprediksi, perekonomian Kalsel akan memburuk apabila tidak segera mengembangkan komoditi di luar dari sektor pertambangan. “Pada tahun 2015 memang masih meningkat, tapi pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh sektor pertambangan. Apabila kita tetap bertumpu di situ maka akan berbahaya,” katanya.

Menurutnya Kalsel masih punya banyak sektor yang dapat dikembangkan, salah satunya adalah di sektor pertanian. “Kita jangan lagi bergantung kepada komoditi yang sudah mulai lesu. Kita harus maksimalkan sektor lain,” ujarnya.

Sekadar diketahui, tiga komoditi unggulan Kalsel memang terus mengalami kelesuan. Sektor pertambangan, harga batubara hingga kini terus mengalami penurunan. Pada bulan Februari 2016 sebesar US$ 50,92 per ton. Harga ini lebih rendah dari periode Januari yang sebesar US$ 53,20 per ton atau turun 4,2 persen.

Sementara di sektor perkebunan, Data Dinas Perkebunan Kalsel menyebutkan harga karet mentah sekarang berada di kisaran Rp4 ribu per kilogram di petani. Sedangkan untuk harga sawit TBS (Tandan Buah Segar) usia di atas 10 tahun rata-rata seharga Rp1.360 per kilogram.

Harga kedua komoditas itu sangat jauh menurun dibandingkan pada masa jayanya. Harga karet dulunya pernah menyentuh Rp16 ribu per kilogram, sedangkan sawit TBS sempat mencapai Rp1.900 per kilogram. (ris/by/ran) prokal-radar

banner 300x250