banner 300x250

SEKOLAH SEHAT

Ditulis oleh Penulis : ROSIDAH, S.Pd

Guru SMPN 2 Tambang Ulang

Menurut Mendiknas (pada pembukaan Rakernas UKS ke IX, 2008, Bali) sekolah sebagai tempat belajar, tidak saja perlu memiliki lingkungan bersih dan sehat, yang mendukung berlangsungnya proses belajar dan mengajar yang baik. Namun, juga diharapkan mampu membentuk siswa yang memiliki derajat kesehatan yang lebih baik.”Lingkungan sekolah sehat, tentu akan sangat mendukung pencapaian tujuan pendidikan”, katanya. Sekolah sehat adalah sekolah yang memiliki lingkungan yang mendukung segala aktifitas belajar mengajar warga sekolah dengan suasana yang nyaman, aman dan lestari. Setidaknya ada 10 indikator sekolah sehat yaitu :

Pertama, kepadatan ruang kelas minimal 1,75 m2/anak, selain untuk kenyamanan dan memberi ruang gerak yang cukup bagi anak, kondisi kelas yang tidak padat juga memudahkan prosedur evakuasi saat  keadaan darurat. Ruang kelas yang lempang memberikan suasana yang lebih fresh, tidak gerah bagi siswa.

Kedua, tingkat kebisingan di lingkungan sekolah maksimal 45 desibel (setara dengan suara orang mengobrol dengan suara normal) karena kebisingan di atas 45 desibel akan mengganggu konsentrasi belajar. Seyogyanya sekolah terletak jauh dari pusat keramaian/kebisingan seperti pasar, terminal, airport dan bandara. Akan tetapi letak sekolah tetap mudah dijangkau oleh publik.

Ketiga, memiliki lapangan atau aula untuk olahraga. Hal ini dimaksudkan agar aktifitas siswa selama kegiatan istirahat dan olah raga dapat dilakukan dengan nyaman.

Keempat, memiliki lingkungan sekolah yang bersih, rindang dan nyaman agar pasokan oksigen dan udara segar selalu tersedia di lingkungan sekolah.

Kelima, memiliki sumber air bersih yang memadai dan septic tank dengan jarak minimal 10 meter dari sumber air bersih.

Keenam, sirkulasi udara segar di ruangan terjadi dengan baik, ventilasi kelas leluasa untuk udara keluar dan masuk.

Ketujuh, pencahayaan kelas yang memadai baik dari sinar matahari langsung atau pun dari energy listrik.

Kedelapan, memiliki kantin sekolah yang memenuhi syarat kesehatan. Kantin yang sehat dari segi standar bangunan, dan bahan makanan yang dijual.

Kesembilan, memiliki toilet dan kamar mandi bersih dengan rasio 1:40 untuk siswa laki-laki dan 1:25 untuk siswa perempuan.

Kesepuluh, menerapkan kawasan tanpa rokok di lingkungan sekolah. Aturan tidak merokok juga berlaku bagi guru dan tenaga kependidikan lainya.

Kesepuluh indikator itu masih harus dilengkapi dengan adanya ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan program UKS yang melaksanakan Trias UKS, yaitu pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sehat.

Sekolah yang sehat mendorong warga sekolah betah berada di lingkungan sekolah yang pada akhirnya memberikan kenyamanan warga sekolah untuk belajar dan mengajar.

 

 

ETIKA BERGAUL GURU DAN MURID DI SEKOLAH

 

 

Akhir-akhir ini sering kita baca guru yang dipidanakan orang tua siswa karena mendidik siswa “bandel” dengan pendekatan yang lebih keras. Sebagian orang tua tidak terima dan menuntut guru namun banyak pula yang pro kepada guru bahwa selama pendekatan “keras” itu dalam kewajaran dan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan maka tindakan tersebut masih dapat diterima. Bagaimanakah Islam mengatur etika adab guru dan murid? Dalam interaksi antara guru dan murid hendaklah murid menghormati guru, memuliakan serta mengagungkannya karena Allah, dan berdaya upaya pula menyenangkan hati guru dengan cara yang baik. Bersikap sopan di hadapan guru, serta mencintai guru karena allah.  Selektif dalam bertanya dan tidak berbicara kecuali mendapat izin dari guru. Mengikuti anjuran dan nasehat guru. Bila berbeda pendapat dengan guru, berdiskusi atau berdebat lakukanlah    dengan cara yang baik, pun ketika berbeda pendapat jika melakukan kesalahan  segera mengakuinya dan meminta maaf kepada guru. Demikian pula guru, mesti sebagai hendaklah ia memang layak ditiru dan digugu sebagaimana hadist Rasulullah SAW ”Tidak boleh menuntut ilmu kecuali dari guru yang amin dan tsiqah (mempunyai kecerdasan kalbu dan akal) karena kuatnya agama adalah dengan ilmu”.

Adab seorang murid terhadap gurunya yaitu :

  1. Berpakaian rapi dan sopan lagi bersih.
  2. Bersikap sopan santun dan hormat terhadap guru seperti menundukkan badan berjalan di depan guru, mengucap salam, permisi dan terima kasih, mencium tangan dan memepersilakan guru terlebih dahulu.
  3. Apabila bertanya hendaklah setelah mendapat izin dari guru dan menanyakan hal yang memang tidak dipahaminya bukan bermaksud merendahkan gurunya.
  4. Hendaknya seorang murid menjaga diri dari berselisih dengan gurunya, dan mencari kesamaan di antara mereka. Mempersempit bahkan meniadakan perbedaan dan mencari persamaan.
  5. Hendaknya murid menekuni pelajaran yang sedang dipelajari di kelas dan tidak mengerjakan tugas pelajaran lain di waktu yang bersamaan.
  6. Hendaklah murid berkata-kata tidak lebih keras dari suara gurunya
  7. Hendaklah murid tidak menjaga jarak pergaulan terhadap gurunya. Tidak boleh murid dan guru bergaul seperti bergaulnya murid dengan teman sebayanya dimana terkadang tidak ada batas kesopanan dan adab. Juga tidak boleh guru menjadi “ekslusif” terhadap muridnya.

 

Dan juga perlu disadari, bahwa hormat dan patuh kepada gurunya bukanlah manifestasi penyerahan total kepada guru yang dianggap memiliki otoritas, melainkan karena keyakinan murid bahwa guru adalah sosok yang memang patut untuk dijadikan panutan. Di mata murid, guru bukanlah pigur yang tak tersentuh dan harus ditakuti akan tetapi bukan pula sosok yang boleh dilecehkan dan dibully.

Beberapa peristiwa dimana guru dianggap remeh oleh muridnya tak terlepas dari pengaruh media televisi yang sering menampilkan tokoh guru sebagai sosok yang tolol, idiot, kuno, tua dan mudah dikibuli murid-muridnya. Pun, karena banyak guru yang dipidanakan lantaran mendidik murid “bandel” dengan pendekatan lebih keras, sebagian guru memilih posisi “secure” dengan membiarkan kelakuan beberapa murid yang berbuat onar dan memberontak di kelas. Guru seperti ini beranggapan mereka tidak dibayar untuk mendidik murid tetapi dibayar untuk mengajar dalam pengertian transper ilmu pengetahuan. Mereka masuk kelas, mengajar sesuai materi dan berakhir sesuai jam mengajar tanpa mempedulikan muridnya sebagaimana murid-muridnya tidak mempedulikannya.

Sebagai orang tua dan wali murid, kita pun harus mahfum, jangan lebay dan alay. Tidak semua pengaduan anak kita tanggapi dengan emosi, lakukan crossceck. Seandainya orang tua dan murid faham adab murid terhadap guru niscaya guru tidak perlu bertindak “keras” kepada murid. Dan guru pun memperlakukan murid dengan terhormat sebagaimana murid menghormati gurunya.

banner 300x250