LINGKUNGAN

Jadikan Kalsel sebagai kota riset  dan ekowisata  bekantan di internasional
By: On:

Jadikan Kalsel sebagai kota riset dan ekowisata bekantan di internasional

Banjarmasin, Media Publik

Peringatan hari bekantan yang ke-4 Selasa (3/4) di Aula Rektorat ULM Banjarmasin menjadi istimewa dengan hadirnya Gubernur Kalsel, Rektor ULM sejumlah pejabat dan Nara Sumber Talk Show dari UGM bersama Peneliti Hewan dari Inggeris serta Kepala BKSDA Kalsel, Ketua SBI.

Sejarah hari bekantan berdasarkan penetapan Bekantan sebagai maskot Provinsi Kalsel nomor 29 tahun 1990 tanggal 28 Maret 1990  maka kami dari sahabat bekantan indonesia foundation menjadikan tanggal tersebut sebagai momentum untuk menumbuhkan kepedulian dan semangat yang besar untuk melawan perjuangan bekantan, ujar Amalia  Ketua Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Kalimantann Selatan (Kalsel).

Peringatan hari bekantan dimulai dari penanaman pohon rambai disetiap alur sungai barito untuk mendukung program revolusi hijau yang dicanangkan oleh  Gubernur Kalsel.

Hari ini juga SBI dengan Fakultas MIPA ULM , Fakultas Kedokteran Hewan dari  UGM BKSDA Kalsel melakukan  penandatangan kerjasama kegiatan untuk menjadikan  Provinsi Kalsel sebagai kota riset bekantan dan ekowisata bekantan baik nasional maupun internasional.

Gubernur Kalsel H. Sahbirin Noor disela acara tersebut sempat terkejut mendapatkan penghargaan Atas Kepedulian terhadap Kelestarian Bekantan dari SBI Kalsel. menurutnya penghargaan ini merupakan kebanggan tersendiri bagi saya.

Jika penghargaan ini dinilai dari uang maka  penghargaan ini tidak ada nilainya bagi sejarah saya secara pribadi, karena dengan  bekantan yang ada di Kalsel adalah fauna yang  bisa memberikan semangat buat kita yang ada di kalimantan selatan.

Kita hanya bisa membandingkan bahwa china itu terkenal dengan panda nya maka  bekantan pun demikian satwa langka ini  adalah punya kalsel. Mari kita ciptakan Bekantan agar menjadi  binantang yang cintai oleh masyarakat dunia.

Bagaimana kita bisa ciptakannya kita semua harus berperan bergerak melakukannya berperan mengenalkannya kepada  dunia luar. Paling tidak bekantan ini sekelas lah dengan panda di china.

Untuk pelestarian Bekantan di Kalsel, Sahbirin menekankan  setiap kawan-kawan yang datang untuk menjaga habitat tersebut hendaknya dalam rangka pemeliharaan atau menjaga kelestariaan habitatnya dapat melakukan penanaman pohon rambai maupun pohon. Lainnya , sementara Anggaran untuk membantu pelestarian Bekantan dirtencanakan untuk diberikan untuk diajukan ke DPRD.

Zulfa anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan mengatakan  atas kegiatan kepedulian terhadap Bekantan ini, kita berikan apresiasi tinggi kepada SBI Kalsel atas terselanggaranya kegiatan hari bekantan 2018.

Hal ini patut kita syukuri ,  karena kegaiatan ini sangat luar biasa hingga Bekantan tersebut jadi Maskot kalsel yang selama ini kurang diperhatikan oleh pihak terkait. Apalagi dengan adanya komunitas sahabat bekantan ini sangat peduli terhadap  bekantan yang ada di Kalsel , i ni hal luar biasa tukas Zulfa.

Mudah-mudahan dukungan semua pihak yakni  SBI,  Pemprov, Pemda, Masyarakat, Swasta, Legislatifnya terhadap keberadaan Bekantan ini semua ikut bekerja sama dan mendukung melestarikan bekantan dikalsel.

Kami DPRD Kalsel sangat mendukung anggaran pelestarian bekantan dan juga endemik asli kalsel ini dianggrakan untuk pelestariannya konservasinya dengan dinas-dinas terkait.

 

Ini adalah suatu hal luas biasa sebagai bentuk komitmen pemprov terhadap pelestarian konservasi hewan langka di kalsel khususnya bekantan  dan juga konservasi anekaragaman hayati di kalsel.

Setelah kegiatan ini kami berharap bahwa tindak lanjut kegiatan ini adalah bahwa adanya bentuk-bentuk atau program-program yang konkret dan hal ini bentuk-bentuk kegiatan-kegiatan seperti pengelolaan koinservasi kawasan konservasi bekantan akreditas bekantan sosialisasi ke masyarakat kesekolah-sekolah tentang kepedulian terhadap kelestarian bekantan dan juga digalakannya penanaman pohon rambai karena kita sudah ketahui banyak pusat bekantan hampir alih fungsi lahannya cukup berkurang,

Tanah laut adalah salah satu kawasan berkembang biaknya Bekantan Kami  berharap kepada pemerintah tala dan juga swasta dan masyarakat untuk bersama-sama berkomitmen untuk melestarikan hewan bekantan. Contohnya membuat kawasan konservasi bekantan didaerah tersebut.

Ketua Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, Mahrus  mengatakan hewan Bekanatan untuk kemanfaatannya maka diperlukan  penangkaran buat lingkungan atau ekowido  wisata.

Berkaitan hari bekantan ini BKSDA berkepentingan untuk terlibat  melingungi bekantan dengan  kita merawat merehabilitasi antara lain adalah mempersiapkan taman wisata alam pulau bakut sebagai satwa bekantan.

Dipulau ini ada perawatan dengan  mengecek kesehatan kemudian juga untuk ekowisata sehingga kepentingan alam itu sebagai edukasi pendidikan akan dimanfaatkan oleh sekolah sekolah untuk melihat bekantan hidup secara alami.

Kawasan lain yang dipersiapkan adalah

sebuah pulau di daerah kabupaten tanah bumbu yaitu pulau suwangi sebagai margasatwa buat bekantan karena disana kita akan menajdikan konservasi untuk bekantan dan juga mancanegara juga akan datang disana nanti karena dia daerah laut dalam sehingga nanti akan memudahkan ke lokasi dan melihat satwa bekantan secara alami di alam nya itu

25  jenis primata  salah satunya bekantan lalu dikalsel sendiri ada sepuluh sebenarnya jenis primata dari 200 ratus primata yang didunia kita ada 10 di kalsel salah satunya bekantan.

Bekantan populasinya untuk seluruh Kalsel tercatat  sekitar 2424 ekor tetapi untuk dikawasan konservasi diperkirakan  878 ekor. Adapun tahapan penyebarannya ada di seluruh dikalsel. Tapi yang terbesar di kabupaten kotabaru kemudian kabupaten barito kuala, kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Tanah Laut itu populasi terbesar untuk bekantan pada tahun 2017, jelas orang Banua ini.

Rektor ULM Prof. Sutarto Hadi menyambut gembira dengan diadakannya TalkShow dengan thema Bekantan Dari Banua Untuk Dunia.

Pertama senang dengan anak-anak muda artinya kiprah mereka selama ini dilokal  mencoba merambah ke internasional. Hal ini dimulai  dari berbagai bakat asal Perguruan Tinggi, ULM, UGM UI bersama kita bisa sekarang  mengangkat bekantan sini sebagai maskot kalsel ke level yang lebih tinggi bahkan  ke dunia.

Mudah-mudahan ujar Sutarto upaya anak muda ini dapat dukungan dari Pemda Akademisi sehingga akan selalu  di ingat oleh masyarakat dunia. Terpenting  nama Kalsel akan terangkat mulai dari pelestarian bekantan hingga menjadi industri pariwisata dunia.

Ketua Gerakan Hijau Peduli Bekantan Tanah Laut Amrulah didampingi Pembina Firdaus dan Sekretaris Kumaini  menyatakan kegembiraannya bisa mengikuti acara Talk Show Bekantan ini. Karean dengan cara seperti inilah Kami bisa mengenalkan Kepada masyarakat luas Tanah Laut keberadaan Bekantan cukup banyak yang tersebar pada kawasan di Kecamatan Pelaihari desa Panjaratan, Tabanio, Kecamatan Kintap, Jorong.

Kepada semua steakholder Komunitas pencinta Bekantan GAHIPBTA berharap memohon bimbibingan petunjuk agar keberadaan Bekantan di Tanah laut Kalsel agar tetap terjaga terpelihara dengan baik untuk melindungi satwa langka ini dari kepunahan akibat kehancuran dari habitatnya yang tergusur oleh kemajuan jaman, jelas Amrulah. (MP)

 

Nyawa Sungai Banjarmasin Digelar
By: On:

Nyawa Sungai Banjarmasin Digelar

Banjarmasin, mediapublik.net

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KemenLHK) RI memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Festival Kolaborasi Nyawa Sungai Banjarmasin yang digelar di taman menara pandang siring Sungai Martapura di Jalan Piare Tendean, 12-13 Mei 2018.

KemenLKH pun mengutus Kepala Sub Direktorat pengelolaan Sampah Restu Yuliani pada acara yang digelar komunitas Kampung Kita Kota Banjarmasin (Kakikota) Banjarmasin bekerjasama dengan pemerintah kota setempat didukung pula Rujak Center For Urban Studies Jakarta serta Kedutaan Besar Denmark.

Menurut Restu Yulianti dalam acara talk show “Nyawa sungai” tersebut di pelataran menara pandang siring sungai Martapura Banjarmasin, Sabtu, sungai merupakan salah satu bagian warga Kota Banjarmasin, karena kota ini memiliki banyak sungai di mana banyak pemukiman warganya yang berada di pinggiran sungai itu.

Dengan adanya kegiatan ini, tuturnya, KemenLHK mengharapkan akan ada imbas positifnya bagi peningkatan edukasi terhadap masyarakat daerah ini, yakni, melalui komunitas-komunitas untuk selalu menjaga kelestarian dan kebersihan sungai.

“Kegiatan ini sangat bagus untuk melakukan gerakan secara masif bagi masyarakat di bantaran sungai agar memelihara sungai dari tidak membuang sampah ke dalamnya,” tutur Restu Yuliani.
. (Antaranews Kalsel/Sukarli)
Sebab, kata dia, sungai di Banjarmasin ini tidak hanya sebagai sarana trasportasi, namun juga sebagai penghidupan, karena air sungainya di manfaatkan sebagai pengolahan air bersih untuk diminum.

Karenanya, ujar dia, sungai di daerah ini yang bisa dikatakan nyawanya bagi kehidupan orang banyak, harus dilestarian dari limbah domistik dan limbah rumah tangga yang mencemarinya.

Dia menyatakan, Kota Banjarmasin yang sudah meraih penghargaan Adipura Kirana selama tiga tahun berturut-turut dari KemenLHK untuk terus menggalakkan kebersihan sungainya, khususnya mengurangi masalah sampah plastik yang dibuang ke sungai.

“Kita sangat apresiasi Kota Banjarmasin sudah dapat dengan baik mengurangi penggunaan kantong platik di toko-toko moderen, kita harap seratus lebih sungai aktif di kota ini akan aman dari sampah plastik kedepannya,” pungkas Restu Yuliani.

Sementara itu, Ketua Komunitas Kakikota Banjarmasin Muhammad Syahreza mengungkapkan, kegiatan ini diselenggarakan untuk mengajak warga Kota Banjarmasin untuk berbuat dengan kotanya.
.
“Segala pengetahuan yang sudah kita gali tentang kota ini, semuanya kita pamerkan, khususnya yang berhubungan dengan sungai dan sejarahnya,” kata Syahreza.

Salah satu contohnya, ungkap dia, adalah jukung atau sampan yang menjadi trasportasi sungai di Banjarmasin, di mana tidak semua orang Banjar tahu berapa jenis jukung yang ada di sungai Banjarmasin ini dulunya.

“Nah di sini ada kita tampilkan sebelas jenis jukung di sungai Banjarmasin dari tulisan buku Erik Petersen atau dulu di kenalnya Kai Asing atau H Arif Fathurrahman yang merupakan orang Denmark, pengetahuan beliau ini kita ingin sebarkan ke warga kita,” ujarnya.

Selain itu, ucap Syahreza, komunitasnya berupaya untuk menjadi teman masyarakat dalam mengelola sampah agar bisa diolah secara kreatif.

Terkait tema acara ada kata nyawa sungai, jelasnya, kata nyawa dalam bahasa Banjar adalah “kamu” dan bisa diartikan juga nyawa itu sebagai ruh, jadi sungai meruapakan bagian kehidupan warga ini hingga harus dipelihara seterusnya. (ant)

Irhamsah Bersama Warga   Bersihkan. Kuburan Muslimin
By: On:

Irhamsah Bersama Warga Bersihkan. Kuburan Muslimin

mediapublik.net

Martadah

Keprihatinan akan keberadaan kuburan muslimin desa Martadah yg saat ini kondisinya sudah tak terurus, dimana kawasan kuburan sudah mulai ditutupi rumput dan pepohonan membuat Irhamsah tergerak secara sepontan mengajak warga untuk membersihkannya.
Ajakan ini menurut Kuku Bima yg disapa akrab dengan sebutan ini secara antusias disambut warga secara bersama sama Jum, at 3/11 membersihkan lokasi secara sukarelawan.
Irhamsah yg juga mantan Kepala Desa Martadah ini menambahkan dalam waktu dekat ia akan memberikan tandon tempat penampungan air untuk keperluan warga yg berziarah ataupun saat adanya pemakaman demi memudahkan mereka dalam melaksanakan kegiatan.
Usai gotongroyong Irham jg mengundang warga yg dan warga lainnya u melakukan tahlillan dan mengiirim doa para almarhum yg sudah bertempat tinggal dikawasan abadi ini. (mpnet)

Empat Menteri dan Dua Gubernur Paparkan Makalah KSI
By: On:

Empat Menteri dan Dua Gubernur Paparkan Makalah KSI

Banjarmasin (Mediapublik.net))

Empat orang menteri dan dua gubernur memaparkan makalah dalam Kongres Sungai Indonesia (KSI) III yang dijadwalkan berlangsung 1-4 November 2017 di Kota Banjarmasin.

 

Berdasarkan jadwal acara (Rundown) KSI III yang dibahas dalam rapat lanjutan panitia KSI di Menara Pandang Banjarmasin, Selasa menyebutkan, keempat menteri tersebut yaitu Menko  Kemaritiman Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan dan  Menteri Kelautan dan Perikanan Ibu Susi Pudjiastuti.

 

Dua menteri lainnya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Ir Mochamad Basoeki Hadimoeljono serta Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr Ir Siti Nurbaya Bakar.

 

Sementara dua gubernur yang juga memamaparkan makalahnya adalah Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo, dan Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor.

 

Makalah yang disajikan seperti “Peluang dan Tantangan Menyelanggarakan Usaha Sektor Kemaritiman Yang Ramah Lingkungan,” oleh Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan. “Keberlanjutan Daya Dukung Sumberdaya Kelautan Untuk Kesejahteraan Nelayan,” oleh Ibu Susi Pudjiastuti.

 

Kemudian “Tantangan Dalam Implementasi Kebijakan Tata Kelola Sumber Daya Air, Sungai, dan Kawasan Untuk Kemakmuran Bangsa,” oleh Ir Mochamad Basoeki Hadimoeljono.

 

“Tantangan Kemitraan Lingkungan dan Tantangannya Dalam Implementasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Untuk Kemakmuran Bangsa,” oleh Dr Ir Siti Nurbaya Bakar.

 

Para menteri  ini akan dimoderatori oleh Fadjroel Rachman Komisaris Utama PT Adhi Karya Tbk.

 

Sedangkan Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo mengetengahkan makalah “Kongres Sungai Indonesia, Gagasan dan Pengalaman Pelaksanaan di Jawa Tengah,” disambung makalah Gubernur Kalsel H Sahbirin Nor “Kongres Sungai Indonesia, Harapan dan Komitmen Untuk Mewujudkan Kalimantan Selatan, Sebagai Beranda Depan Peradaban Sungai,”

 

Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina juga tampil mengetengahkan makalah berjdul ” Banjarmasin Sungai Terindah dan Baiman.

 

Gubernur dan Walikota ini dengan moderator Gusti Nurpansyah Staf Khusus Menteri, Kementrian Lingkungan Hidup 2009 – 2011 dan Tim  Ahli Restorasi Gambut TRGD Kalimantan Selatan.(Antara

Kades Evakuasi Warga Sebelum Musibah Korban Jiwa Terhindarkan
By: On:

Kades Evakuasi Warga Sebelum Musibah Korban Jiwa Terhindarkan

TanahLaut-MediaPublik

Tanggul tambang batubara jebol, tak lama selepas debit air yang meluap di kawasan sungai Kintap, Desa Kintap Lama Kec. Kintap, Tanah Laut akibat hujan deras dikawasan itu, Minggu (18/6/2017) siang.

Berdasarkan data dinas sosial yang beredar di grup WhatsApp Jendela Informasi Tanahlaut sekitar 74 jiwa dari 19 kepala keluarga direlokasi dari lokasi musibah yang berada di lingkungan RT 6. Derasnya air juga menggerus tebing dan menghanyutkan sekitar 8 rumah dari 18 rumah di area terdampak banjir dan longsor.

Atas musibah tersebut sebagaimana dilansir dari dari banjarmasin.tribunnews.com,dan Kabar Kal-Sel FB malamnya, Pemerintah Desa Kintaplama mendirikan posko bantuan untuk para korban yang terdampak banjir sungai Kintap di Kantor Desa Kintaplama. Untuk sementara mereka diminta menempati rumah kontrakan di sekitar desa Kintaplama yang telah disediakan pemerintah desa.

” 67 jiwa dengan 14 rumah di wilayah RT 6. Pertambangan batu bara itu resmi dan sudah membebaskan lahan dan tempat tinggal warga,” ujar Kepala Desa Kintap Lama.

Langkah merelokasi warga itu dilakukan karena lahan yang ditempati warga saat ini, dilihat Iswandi sebagian kecil sudah dibebaskan pihak pertambangan batu bara serta rawan longsor.

“Tidak ada korban jiwa. Kami relokasi warga di RT 6 yang terdampak dari areal lubang tambang.  Sebagian tanahnya di dekat lubang tambang juga sudah longsor,” paparnya.

Evakuasi dilakukan oleh Iswandi pada warganya di bantaran sungai tersebut, lantaran pihaknya telah memperkirakan bahwa tanggul bekas galian berpotensi jebol dan menyebabkan longsor.

Saat ini, bantuan dipusatkan di Kantor Desa Kintap Lama dan BNPB Tanah Laut juga telah mendirikan tenda guna menampung keperluan  warga yang diungsikan. (MP/net)

Daftar korban yang diungsikan

 

  1. Edi / istri / 1 anak
  2. Wira dani / istri / 1 anak
  3. Jamilah / 2 anak
  4. Nani
  5. Abdul hamid / istri / 1 anak
  6. Yudi / istri / 5 anak
  7. Taufik/ istri / 2 anak
  8. Idris / istri / 1 anak

 

Rumah yang terkena dampak 

  1. Mu’in /istri/ 2 anak
  2. Muriadi / istri / 4 anak
  3. Isnani / janda / 4 anak

 

1 buah jembatan rusak

RT 6 Desa Kintap

Program Satu Milyar Satu Desa Tingkatkan Pemerataan Pembangunan Di Desa
By: On:

Program Satu Milyar Satu Desa Tingkatkan Pemerataan Pembangunan Di Desa

Meningkatnya   daya   saing,   juga   berdampak   terhadap   meningkatnya   proses pembangunan pada sektor lain seperti bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan kelautan, bidang pariwisata, dan sejumlah bidang pembangunan strategis lainya yang secara intents dan berkelanjutan juga menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah

Realisasi program pembangunan tersebut telah menjadi jawaban atas berkembangnya aspirasi   masyarakat   luas  yang   mengharapkan   upaya   nyata   dari   pemerintah  daerah dalam hal peningkatan kualitas SDM, daya saing, dan kesejahteraan di Bumi Bersujud. Peran aktif masyarakatpun, juga diharapkan agar  tidak sekedar menjadi obyek pembangunan daerah. Masyarakat lebih diposisikan sebagai mitra kerja pemerintah untuk bersama-sama merumuskan kebutuhan program pembangunan daerah.

Kebersamaan   ini   tercermin   pada  saat   pelaksaan   program   “Satu  Milyar   Satu   Desa”  sejak tahun 2015. “Satu Milyar Satu Desa” juga menjadi salah satu program strategis daerah   dalam   rangka   meningkatkan   pemerataan   pembangunan   yang   berbasis perdesaan.

Melalui program pembangunan Satu Milyar Satu Desa, proses pembangunan di wilayah Kabupaten   Tanbu   yang   luas   mencapai     5.066,96   kilometer   persegi   secara   umum berjalan lancar.   Sedikitnya ada sekitar 144 desa yang masyarakatnya dapat kucuran alokasi   dana   tersebut   melalui   Anggaran   Pendapatan   dan   Belanja   Daerah   (APBD) Tanbu, guna mempercepat kebutuhan pembangunan di desanya masing-masing.  Secara konseptual, pelaksanaan Program Satu Milyar Satu Desa juga lebih difokuskan untuk tiga hal bidang pembangunan yaitu bidang insfrastruktur, pendidikan, dan bidang kesehatan.

Melalui   program  ini   pula,   pemerintah  desa   diberikan   keleluasaan  sebesar-besarnya untuk melakukan inisiasi dalam menentukan rencana pembangunan prioritas apa saja yang akan direalisasikan sebagai bentuk refresentasi aspirasi masyarakat desa.

Bisa Kaya HSU Kalau Begini
By: On:

Bisa Kaya HSU Kalau Begini

AMUNTAI – Potensi Sumber Daya Alam atau SDA di wilayah Kota Itik Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) terus bermunculan. Pada 2015 lalu sampai saat ini, wilayah HSU telah menjadi sasaran survei pihak PT Pertamina EP. Terbaru kabar muncul-nya kandungan gas metana di Kecamatan Babirik yang hebohkan warga HSU.

Gas metan yang muncul dari sumur galian sumur bor sedalam 80 meter itu, pertama mengeluarkan bau gas dan kemudian disusul munculnya api kecil. Meski sempat jadi tujuan tontonan warga setempat, namun sejak Sabtu (12/3) api yang berkobar dari gas itu padam.

Sekretaris Daerah Setda HSU, Ir H Eddyan Noor Idur, menilai hal itu sebagai tanda luar biasa potensi alam yang dimiliki HSU. Memang saat ini diakuinya mantan Kadis PU, sejak Balangan berpisah dari daerah-nya, maka sejak itu daerah ini tidak ditopang oleh SDA. (mar/bin) http://kalsel.prokal.co / Radar

Air PDAM Tidak Layak Minum ?
By: On:

Air PDAM Tidak Layak Minum ?

Banjarmasin, Media Publik
Begitulah kesan beberapa masyarakat Banjarmasin bahkan salah satu dokter  kesehatan dikawasan kayutangi  Banjarmasin mengatakan hal sama pada Koran ini waktu lalu. Air sekarang sangat terasa berlemak, payau dan hanta. Danitu tidak layak untuk diminum.
Untuk menjaga kualitas kesehatan demi keamanan, untuk minum Saya bersama keluarga menggunakan air mineral dengan ukuran galon tambah dokter.
Dari investigasi pantauan dilapangan Koran ini , kondisi  air payau ini tidak hanya ditemukan dirumah warga. Tetapi juga pada salah satu Depo  Penjualan isi ulang dikawasan Teluk Dalam,  dibeberapa warung-warung makan. Sehingga kenyamanan dalam mengkonsumsi air PDAM   ini mengurangi kenikmatan bahakan ada perasaan khawatir jika dikonsumsi akan mengganggu kesehatan ujar salah satu warga Banjarmasin Salasiah.
Saat dikonfirmasi Koran ini ke PDAM Banjarmasin minggu lalu, humas PDAM mengatakan  kualitas air yang diproduksinya  dengan rasa payau tersebut diakuinya memang begitulah keadaanya , kami terpaksa menyuplaya air tersebut dengan kondisi seadanya jika tidak  maka pelanggan tak bisa teralirkan air. Untuk itu kepada warga  dianjurkan untuk tidak diminum, jadi  hanya digunakan untuk mandi dan mencuci saja.
Sumber di PDAM mengatakan  produksi bahan baku air yang diolahnya memang sudah kritis. Sumber air yang bisa digunakan hanyalah berada pada sungai Tabuk. Sementara untuk sungai lain seperti sungai Martapura itu sudah kebanyakan dimasuki air laut yang kadar garamnya melebihi dari batas toleransi.
Sementrara itu Jailani warga jalan pangeran Antasari tentang air PDAM Banjarmasin  yang payau berasa hanta itu, ia akan melaporkannya segera ke YLKI Kalsel untuk meminta kepastian petunjuk informasi dengan  rekomendasi kelayakan dari kulitas air dari badan yang berwenang bisa menjamin layak atau tidaknya untuk diminum. Termasuk apakah ada pengaruh berdampak terhadap kesehatan jika dikonsumsi. (Tim)

Nelayan Belum Bangun Bagan Akibat Mahalnya Bahan
By: On:

Nelayan Belum Bangun Bagan Akibat Mahalnya Bahan

Kotabaru,   (Antaranews Kalsel) – Nelayan bagan di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, yang terpuruk hingga saat ini belum mampu membangun baganya yang roboh, karena mahalnya biaya dan harga bahan baku.

“Keluarga kami hanya memanfaatkan bagan yang masih tersisa tidak roboh. Dan bagan yang sudah ambruk akibat diterjang gelombang tinggi dan angin kencang juga masih belum dibangun kembali,” kata keluarga nelayan Akhmad Qomaruddin, di Kotabaru, Minggu.

Dia mengaku, puluhan bagan milik keluarganya sekitar satu bulan yang lalu ambruk setelah diterjang angin kencang dan gelombang tinggi.

Sebelumnya, juragan bagan di Kotabaru H Ranja mengaku tujuh bagan miliknya yang baru dibangun ambruk setelah diterjang gelombang setinggi 1,5 meter-2 meter disertai angin kencang.

Dia mengaku, satu unit bagan diperlukan sekitar 20 batang tiang, dan satu batang harganya diatas Rp1,25 juta, harga tersebut belum termasuk jaring dan biaya pembangunanya, sehingga untuk membangun satu unit bagan diperlukan dana diatas Rp40 juta lebih.

Kepala Dinas Kelautan dan perikanan Kabupaten Kotabaru, H Talib, mengungkapkan, nelayan di Desa Sarang Tiung Kotabaru merugi sekitar Rp1,4 miliar, setelah 150-200 bagan milik mereka roboh diterjang angin dan gelombang tinggi.

“Peristiwa ini sebenarnya sudah bisa dikategorikan sebagai bencana, karena musibah robohnya ratusan bagan disebabkan oleh alam, yakni angin dan gelombang tinggi,” katanya.

Talib menjelaskan, robohnya ratusan bagan milik nelayan di Desa Sarang Tiung dan sekitarnya itu terjadi dalam waktu sepekan terakhir.

“Padahal, musim angin kencang dan gelombang tinggi atau (musim tenggara) ini diperkirakan masih akan berlanjut hingga Januari 2016,” terang dia.

Talib menuturkan, nelayan sudah banyak yang susah tidak bisa menangkap ikan, karena alat tangkapnya (bagan) mereka ambruk, dan tidak memiliki biaya untuk membangun kembali karena biayanya cukup tinggi.

“Biaya membangun satu bagan kisaran Rp50 juta-Rp70 juta. Jadi kalau dalam satu minggu ada sekitar 200 bagan yang roboh, maka jumlah kerugian bisa mencapai kisaran Rp1,4 miliar,” jelas Talib.

Editor: Imam Hanafi

El Nino tahun ini ‘yang terkuat’ sejak 1950
By: On:

El Nino tahun ini ‘yang terkuat’ sejak 1950

Badan PBB Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengatakan fenomena cuaca El Nino saat ini mungkin saja adalah yang terkuat sejak 1950, ketika pengamatan dan pencataan gejala alam ini mulai dilakukan.

El Nino adalah gejala alam yang ditandai dengan air di Samudra Pasifik menjadi sangat hangat.

Fenomena ini bisa mengganggu pola cuaca di seluruh dunia.

Para pakar WMO mengatakan kekuatan El Nino tahun ini masih bisa bertambah dan kemungkinan akan mencapai puncaknya pada akhir tahun.

“Kekuatan El Nino akan mencapai puncaknya, diperkirakan dalam periode antara Oktober 2015 hingga Januari 2016. Ada kemungkinan ini akan menjadi salah satu El Nino terkuat sejak 1950,” demikian pernyataan yang dimuat di situs resmi WMO hari Selasa (01/09).

Bila perkiraan ini menjadi kenyataan temperatur di Samudra Pasifik bisa dua derajat lebih hangat dari biasanya.

Para ilmuwan di India mengatakan mereka sudah melihat dari El Nino tahun ini, yang menyebabkan musim hujan kali ini 12% di bawah rata-rata normal.

=======

El Nino pengaruhi kebakaran hutan di Indonesia

Gejala alam El Nino yang diperkirakan terjadi hingga November mendatang dikhawatirkan akan meningkatkan kasus kebakaran hutan di Indonesia, seperti disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB.

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan sampai Selasa pagi terdapat 85 titik panas atau hotspot yang terpantau di Sumatra, tersebar di wilayah Jambi, Sumatra Selatan dan Pekan Baru, Rengat, Pelalawan sehingga membuat jarak pandang terbatas.

“Ancamannya sampai November nanti, di Sumatra dan Kalimantan, asap juga cukup pekat dan sudah berlangsung selama satu minggu, dan karena terbawa angin juga masuk ke wilayah Batam dan juga Singapura,” jelas Sutopo.

Sutopo mengatakan kabut asap yang terjadi di Riau Sumatra sempat menyebabkan tertundanya penerbangan pada Selasa (25/08), karena jarak pandang kurang dari 500 meter.

Data BNPB menyebutkan ancaman kebakaran hutan tidak hanya di hutan Sumatra dan Kalimantan, tetapi juga di kawasan hutan yang berada di lereng Gunung Merbabu yang terletak di empat kota di Jawa Tengah dan Gunung Watangan Puger di Kabupaten Jember.

Tetapi, BNPB menyebutkan telah berhasil mengatasi kebakaran yang terjadi di Gunung Merbabu Jawa Tengah.

Sementara itu, Kepala Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG Kukuh Ribudiyanto menjelaskan kondisi kekeringan di Kalimantan dan Sumatra ini juga dipengaruhi oleh siklon tropis selain El Nino yang tidak separah pada 1997 lalu.

“Itu lebih parah pada 1997, ketika itu suhu permukaan laut lebih dingin di wilayah perairan Indonesia dan dampaknya lebih luas, kebakaran hutan ini terjadi karena kekeringan di Sumatra dan Kalimantan yang dipengaruhi El Nino dan juga fenomena siklon tropis yang ada di Utara Indonesia sekitar Filipina sehingga di Kalimantan Tengah, Timur dan Sumatra Jambi curah hujan lebih berkurang karena ada siklon tropis,” jelas Kukuh.

Upaya pemadaman

El Nino merupakan naiknya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik sekitar ekuator, khususnya di sekitar Cile dan Peru, yang diikuti dengan turunnya suhu permukaan air di beberapa wilayah perairan Indonesia. Dampaknya adalah terjadinya kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.

Sekitar 16 Provinsi, 150 kabupaten/kota dan 800 kecamatan telah mengalami kekeringan. Sebagai antisipasinya, BNPB mulai melakukan hujan buatan pada Selasa (25/08) dengan biaya Rp200 milliar untuk mengatasi kekeringan. Sementara untuk mengatasi kebakaran hutan biaya yang disiapkan mencapai Rp385 milliar.

“Upaya pemadaman tetap dilakukan dalam hal ini BNPB masih tetap melakukan water bombing dengan mengerahkan 3 helikopter di Riau dan hujan buatan juga masih dilakukan, sementara di Sumatra Selatan kita lakukan hujan buatan dan dua helikopter untuk water bombing, dan upaya pemadaman juga dilakukan oleh satgas di darat,” jelas Sutopo.

Dia menekankan antisipasi kebakaran hutan juga sebaiknya dibarengi dengan penegakan hukum.

“Kita tidak menyalahkan alam, El Nino memang menambah wilayah tersebut kering dan mudah terbakar, meski operasi di darat dan udara dilakukan nyatanya titik hotspot masih bermunculan karena dibakar, jadi solusinya ya harus ada juga penegakan hukum, ” jelas Sutopo.

Masalah penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan juga disoroti oleh Direktur Eksekutif Walhi Abednego Tarigan. Selain itu, dia juga menyebutkan masalah tata guna lahan yang menjadi salah satu penyebab kebakaran hutan.

“Padahal presiden Jokowi sudah menyoroti masalah tata guna dan perijinan lahan, dan rehabilitasi lahan gambut untuk mencegah kebakaran hutan, tetapi sampai saat ini kebakaran hutan lebih pada masalah pemadaman saja, bukan menyelesaikan akar masalahnya,” jelas Abednego.

Sampai Juli 2015, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tengah menangani 10 kasus melalui sengketa pengadilan, yang sebagian besar merupakan kasus kebakaran lahan.